 | About Me | Nov 22, 2007 |
Hanya seorang lulusan Sarjana Teknik Mesin yang tersesat ke dunia jurnalis.
Awalnya saya pikir ini mudah. Begitu mendapat kabar dari kantor bahwa saya harus pindah ke Solo, saya sempat kalut. Tapi saat itu saya berpikir kekalutan saya itu bisa saya atasi dengan mudah. Saya kalut karena harus berpisah dengan anak dan isteri. Meskipun jarak Salatiga-Solo sebenarnya tidak jauh-jauh amat, paling lama ditempuh 1,5 jam perjalanan. Tapi sepertinya tidak ada bedanya dengan jika harus berpisah dengan jarak yang lebih jauh sekalipun. Toh saya hanya bisa ketemu isteri dan anak seminggu sekali. Itu pun hanya sehari. Pekerjaan telah memperbudak dan merampas waktu saya bersama keluarga. Tapi apa mau dikata, melepas pekerjaan demi bisa berkumpul bersama keluarga pun rasanya bukan pilihan yang bijak. Karena kebahagiaan berkumpul keluarga itu pasti semu. Siapa yang akan membiaya hidup keluarga kalau saya tidak bekerja? Kalau sudah begitu, apa kita bisa bahagia? Makan ga makan asal kumpul, sudah tidak lagi relevan di zaman sekarang yang semuanya dihitung berdasarkan materi. Uang memang bukanlah segalanya, tapi (hampir) segalanya butuh uang. Carilah pekerjaan yang dekat dengan keluarga. Saran itu terdengar mudah diucapkan. Tapi dengan situasi seperti saat ini, saran itu seperti sebuah bisikan setan yang harus saya tolak. Perasaan seperti ini, jauh dari keluarga yang dicintai, akhirnya terjadi kembali. Sedih dan gundah berkecamuk. Dulu, saya pernah merasakannya saat saya harus pisah dengan orangtua. Begitu lulus SMA, saya harus mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Di kampung halaman, tidak ada perguruan tinggi yang berkualitas. Paling dekat larinya ke Jakarta. Cerita miring yang selalu saya dengar tentang Jakarta itu membuat saya sangat tidak tertarik untuk kuliah di Kota Metropolitan itu. Saya lebih cenderung sreg untuk menjadi orang Jawa, maka pilihan saya jatuh ke Solo. Saya putuskan untuk kuliah di Solo. Tapi sebelum itu, setelah lulus SMA saya merantau ke Jogja untuk mengikuti bimbingan belajar. Persiapan untuk menghadapi UMPTN. Waktu itu saya ingin mengambil jurusan teknik elektro di UGM. Tapi sebelum saya ikut tes, saya akui, saya sedikit ragu dengan kemampuan saya untuk bisa lolos. Dan ternyata benar, nama saya tidak tercantum dalam peserta yang lolos. Hari pertama tinggal di Jogja, muncul perasaan tidak nyaman. Saat mobil yang dinaiki bapak ibu mulai meninggalkan kos-kosan yang ada di Gejayan, tangan ini rasanya ingin menggapai dan meneriakan, jangan tinggalkan saya!. Setelah itu, saya selalu teringat Ibu dan bapak di rumah. Sehari dua hari saya mencoba untuk mencari kesibukan agar pikiran tidak terfokus ingat sama rumah dan orang tua. Tapi ternyata sulit. Setiap saya pulang dari bimbel dengan berjalan kaki sepanjang beberapa kilometer, di jalan rasanya selalu ingin menangis. Saya ingin pulang! Sebenarnya saya tidak sendiri di Jogja. Ada sepupu yang kuliah di Jogja, bahkan satu kamar dengan saya. Tapi tetap saja tidak bisa menggantikan posisi orangtua di hati saya. Dan saat ini perasaan itu kembali muncul. Saat saya harus meninggalkan isteri dan anak tercinta. Pikiran tidak bisa fokus! Saya sering membuat kesalahan, dan kerap mendapat teguran dari atasan. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Masak saya katakan kepada atasan bahwa saya lagi kalut, jauh dari anak isteri. Sudah pasti saya ditertawakan, dan sudah pasti atasan tidak mau tahu hal itu. Bukankah itu sudah menjadi risiko seorang wartawan dipindahkan kemana-mana dan jauh dari keluarga. Pasti begitu kata-kata yang mereka ucapkan. Kalau sudah begitu saya tidak bisa apa-apa. Kalau memprotes ya silakan saja angkat koper. Tapi setelah dipikir-pikir, kita semua nantinya juga akan sendirian. Semua hal yang kita cintai, anak, isteri dan materi akan meninggalkan kita. Karena semua itu tidaklah hakiki. Saya jadi teringat ibu. Dia begitu tabah saat bapak meninggalkannya untuk mencari nafkah di luar kota. Ibu sering di rumah sendirian, saya seringkali sedih memikirkan ibu. Beberapa kali saya coba telepon ibu untuk mengetahui keadaannya. Ibu tidak pernah mengeluh. Dan saat saya tanya apakah bapak sudah pulang ke rumah, ibu menjawab belum. Saya sedih dan takut terjadi apa-apa terhadap ibu karena sendirian di rumah. Saya tanyakan apakah nenek ada di rumah dan menemani ibu, ia menjawab tidak ada. Saya tanya lagi, berarti ibu sendirian? Ibu menjawab, ibu tidak sendirian, ada Allah bersama ibu. Seketika itu pula hati saya tergetar dan menangis. Subhanallah! Saya terdiam sejenak, entah kenapa saya tidak bisa berkata apa-apa. Dan tiba-tiba hati ini berangsur-angsur tenang. Benar, ibu tidak sendirian. Ada Allah SWT yang menjaganya, kenapa tidak terpikir oleh saya. Saya dibutakan oleh pikiran duniawi. Sejak saat itu, saya pasrahkan nasib ibu saya kepada Allah SWT yang telah menciptakan wanita luar biasa itu. Dan bukankah itu bukanlah pekerjaan sulit bagi Zat yang Maha Kuasa, Maha Perkasa dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?! Di saat tidak ada siapa-siapa lagi di sisi kita, sesungguhnya masih ada Allah SWT yang selalu menemani, menjaga dan membimbing kita. Tentunya jika kita percaya Allah SWT sebagai Sang Maha Pencipta dan penguasa alam semesta. Karena sesungguhnya tak ada satu daun pun yang jatuh tanpa seizin Allah SWT. Akhirnya saya pasrahkan pula nasib isteri dan anak saya tercinta kepada Allah SWT yang telah menciptakan mereka. Ya Allah Ya Aziz, Ya Rahman, Ya Rahim, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku. Dan sayangilah keduanya seperti mereka menyayangiku di waktu kecil. Berilah ketabahan padaku, isteri dan anakku dalam menjalani hidup. Tanamkanlah ke dalam hati kami kesabaran seperti kesabaran para rasul Mu dan para sahabat. Jauhilah kami dari sikap kufur atas nikmat-MU, jadikanlah kami hamba yang dapat mensyukuri karunia yang telah Engkau beri. Tunjukanlah kami jalan yang lurus, yakni jalan para Rasul dan para sahabat. Dan bimbinglah kami selalu. Peliharalah istri anaku. Lindungilah isteri dan anakku Ya Aziz, Jauhkan mereka dari prasangka buruk. Jauhkan mereka dari rasa iri dan dengki. Jauhkan lah mereka dari hal-hal yang dapat menyesatkan mereka. Lapangkanlah hati mereka. Amien.
 Keberadaan Tempat Ibadah Tri Dharma Hok Tiek Bio atau biasa disebut Klenteng Hok Tiek Bio yang berada di Jalan Letjen Sukowati merupakan saksi sejarah masuknya ajaran agama Budha di Kota Salatiga. Dan dalam perjalanannya, Klenteng Hok Tiek Bio ini pun menjadi simbol dari keberadaan penganut Tri Dharma, yakni kombinasi antara agama Budha, Khong Hu Cu dan Taoisme.
Masuknya pengaruh ajaran Budha sendiri sebenarnya sudah terjadi sangat lama. Ini ditandai dengan banyaknya ditemukan arca-arca berupa lingga, yoni dan prasasti dengan corak Hindu/Budha. Berdirinya klenteng ini sekaligus menandakan masuknya pengaruh Tionghoa ke Kota Hati Beriman ini. Tak diketahui secara persis kapan pengaruh kaum warga keturunan ini masuk ke Salatiga yang dulunya merupakan tanah perdikan ini. Namun dari hasil identifikasi sejumlah ahli sejarah, masuknya pengaruh Tionghoa ke Kota Salatiga diprediksi terjadi seiring dengan pergerakan Tionghoa ke Surakarta (Solo) pada tahun 1740-1741. Menurut Hamdi Chan, juru kunci Klenteng Hok Tiek Bio, klenteng yang didominasi warna merah dan kuning keemasan ini dibangun sekitar tahun 1872. Tak jelas siapa yang tokoh yang memiliki ide pembangunan klenteng yang memiliki sembilan altar (meja pemujaan) ini. Namun yang pasti, klenteng ini berdiri dari sumbangan para penganut Tri Dharma kala itu. Nama-nama jemaat yang ikut menyumbang tertuang dalam prasasti yang terpampang di tembok sebelah timur ruang utama dengan tulisan China. Warna merah menyimbolkan kebahagiaan dan kesuksesan. Sedang warna kuning keemasan memiliki arti sifat ketuhanan/keagamaan (religusitas). Hamdi yang sudah 20 tahun merawat klenteng yang menghadap ke utara ini memaparkan, sembilan altar tersebut berada di sembilan ruang. Ruang paling depan yang terbuka pada bangunan utama yang bentuknya menyerupai huruf T terbalik ini adalah ruang penyembahan Thian Than (Tuhan Yang Maha Esa). Ruang tengah yang merupakan ruang utama terdapat altar Dewa Bumi (Hok Tek Cing Sien) beserta dewa lain dan pengawalnya. Di sebelah timur ruang utama terdapat dua ruang penyembahan, yakni ruang penyembahan Dewi Welas Asih (Mak Co Kwan Im) dan ruang penyembahan Dewa Rezeki. Sementara di sebelah barat ruang utama juga terdapat dua ruang penyembahan, yakni ruang penyembahan Dewi Lautan (Mak Co Thian Siang Sing Bo) dan ruang penyembahan smiling Budha (Budha yang selalu tersenyum). Terpisah dari bangunan utama, di sebelah barat terdapat bangunan memanjang ke utara yang berisi tiga ruang penyembahan. Ruang paling utara merupakan terdapat altar Budha Sidharta Gautama. Ruang tengah terdapat altar Thay Sang Lo Kun dan ruang paling timur terdapat altar Nabi Khong Hu Cu. Salah satu keunikan dari Klenteng Hok Tiek Bio ini adalah terdapat sebuah tampa bulat yang terbuat dari bambu tergantung di langit-langit ruang penyembahan Dewa Bumi. Menurut Hamdi, keberadaan tampa yang sudah berwarna hitam akibat terkena kepulan asap lilin dan hio swa ini adalah peringatan agar tidak bersumpah di dalam klenteng, kecuali atas perintah pengadilan. Bagi yang melakukan sumpah di dalam klenteng namun sumpahnya itu bohong, diyakini orang yang bersumpah itu akan menerima risiko yang besar dari apa yang ia kerjakan. Oleh: Kaled Hasby Ashshidiqy
Jejak Sejarah Di antara beberapa bangunan bersejarah yang berdiri di Kota Salatiga, Gedung Pakuwon, merupakan salah satu benda cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi. Karena bangunan yang berada di Jl Brigjen Sudiarto ini, di kawasan Lapangan Pancasila, merupakan saksi atas peristiwa bersejarah yakni munculnya Perjanjian Salatiga antara Raden Mas Sahid atau biasa disebut Pangeran Sambernyowo, Paku Buwono II dan Pemerintah Kolonial Belanda pada 17 Maret 1757, berdasar buku Inventarisasi Peninggalan Benda Purbakala dan Bangunan Bersejarah Kota Salatiga yang disusun oleh Jurusan Pendidikan Sejarah UKSW Salatiga.
Sementara sumber lain menyebutkan, Perjanjian Salatiga melibatkan Kasunanan Surakarta, Kesuutanan Yogyakarta, VOC dan Pangeran Sambernyawa. Perjanjian ini merupakan pangkal dari pembagian wilayah kekuasaan Kerajan Mataram Islam. Menurut Wikipedia.org, perjanjian ini memberi Pangeran Sambernyawa separuh wilayah Surakarta (4000 karya, mencakup daerah yang sekarang adalah Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Karanganyar, plus sekelumit eksklave di wilayah Yogyakarta) dan menjadi penguasa Kadipaten Mangkunegaran dengan gelar Mangkunegara I. Penguasa wilayah Mangkunegaran tidak berhak menyandang gelar Sunan atau Sultan, dan hanya berhak atas gelar Pangeran Adipati. Dengan demikian, Perjanjian Salatiga sebenarnya justru memiliki arti penting atas terbentuknya kekuasan Kadipaten Mangkunegaran yang saat ini berada di Surakarta (Solo). Nama pakuwon sendiri diambil dari nama akuwu, yakni salah satu gelar/jabatan pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram. Gedung Pakuwon dulunya merupakan tempat tinggal Akuwu. Nama Pakuwon tertulis dalam dalam bahasa latin pada salah satu tembok bangunan tersebut. Belum diketahui secara pasti, siapa Akuwu awal yang menempati gedung tersebut. Namun dalam perkembangannya, gedung tersebut pernah dihuni oleh seorang Bupati Gorbogan bernama Raden Mas Arya Sunarto. Pada masa pendudukan Jepang, gedung yang saat ini kondisinya tak terawat pernah dijadikan markas tentara Negeri Matahari Terbit. Baru pada masa revolusi kemerdekaan, gedung ini beralih tangan dan digunakan sebagai markas Divisi IV Jatikusumo dan selanjutnya dikuasakan kepada TNI AD. Dalam perjalanannya, bangunan bersejarah ini tak lagi dikuasai pemerintah namun dimiliki pribadi perorangan setelah dilelang. Secara arsitektural, Gedung Pakuwon kental dengan gaya bangunan Eropa (Belanda). Ciri utama adalah bangunan terbuat dari batu bata dan tembok. Sekalipun bangunan Pakuwon tidak terdapat ragam hias, namun pada pintu-pintu yang masih asli terdapat garis-garis datar seperti hiasan geometris. Sayangnya, gedung sarat nilai sejarah ini tidak terawat. Sebagian besar bagian bangunan sudah rusak dimakan usia. Bahkan ada salah satu bangunan berukuran kecil berbentuk seperti pos ronda yang berada di bagian belakang gedung sudah dibongkar. Bangunan itu disebut-sebut sebagai tempat ditandatangani Perjanjian Salatiga. Namun, menurut pembicaraan beberapa orang, karena sering dijadikan tempat untuk mencari wangsit untuk judi, maka bangunan kaya nilai historis itu dibongkar. Belum ada upaya riil dari pemerintah setempat untuk menyelamatkan Gedung Pakuwon yang letaknya tak jauh dari komplek Pemkot Salatiga ini. Jika dibiarkan, maka dalam beberapa tahun ke depan, kita tidak bisa lagi melihat saksi sejarah yang tersisa dari peristiwa Perjanjian Salatiga yang menjadi cikal bakal munculnya pemerintahan Kadipaten Mangkunegaran. oleh: Kaled Hasby Ashshidiqy 
Jaga hubungan keluarga, kunci terhindar dari Narkoba dan HIV/AIDS
Secara kasat mata, tak ada yang berbeda dari fisik pria, sebut saja Raymond, 28, warga Salatiga. Wajahnya terlihat segar, matanya cerah, badannya pun cukup gemuk. Tak terlihat sama sekali bahwa dia sebenarnya menderita penyakit yang sangat ditakuti masyarakat, yakni AIDS (Acquired Immune Deficiensy Syndrome). Penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia ini mulai diketahui diidap Raymond sejak setahun lalu tanpa sengaja. Saat itu, ia menderita infeksi paru dan dirawat di rumah sakit. Saat itu dari hasil pemeriksaan dokter ia dinyatakan positif terinfeksi AIDS. Pria bekulit sawo matang ini langsung depresi berat begitu mengetahui dirinya terinfeksi penyakit yang belum ada obatnya ini. Ia mengurung diri di rumah selama tiga bulan sebelum akhirnya ada orang dari kelompok dukungan Sebaya yang memberinya dukungan. Masa lalunya yang kelam, menjerumuskannya kepada situasi saat ini. Sejak SMA, Raymond mengaku sudah menjadi pecandu Narkoba sampai akhirnya masuk rumah sakit. Kini, meski mengidap AIDS, ia merasa lebih sehat dibandingkan dulu saat masih menjadi pecandu. Barang haram itu sudah ia buang jauh-jauh, begitu juga dengan minuman keras dan rokok. Berkat pendampingan dari kelompok dukungan Sebaya, pria lajang ini sudah berani tampil di muka umum. Bahkan ia pun tak lagi menyembunyikan jati dirinya yang merupakan ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Pengalaman hidupnya dianggap oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Salatiga bisa memberikan pelajaran berharga bagi para pelajar untuk bisa terhindar dari penyebaran HIV/AIDS. Maka itu, Raymond diminta untuk menjadi salah satu pembicara dalam Forum Tatap Muka bertajuk Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyalahgunaan Narkoba yang diselenggarakan Kantor Informasi dan Komunikasi Kota Salatiga, Kamis (20/11) di RM Banyu Bening. Menurutnya, salah satu penyebab utama mengapa remaja banyak yang terjerumus pada penyalahgunaan Narkoba adalah ketidakharmonisan hubungan keluarga. Ia mengaku hubungannya dengan orangtua kala itu tak berjalan baik, sampai akhirnya ia terjerumus dalam penyalahgunaan Narkoba. Yang akhirnya berujung pada kenyataan bahwa ia terinfeksi AIDS akibat penggunaan alat suntik yang tak steril. “Agar terhindar dari terinfeksi HIV/AIDS jangan gunakan Narkoba, jangan lakukan seks bebas dan yang utama adalah jaga hubungan harmonis dengan keluarga dan dekatkan diri dengan Tuhan,” begitu pesan Raymond kepada para pelajar SMA yang hadir dalam acara tersebut. Raymond mengaku, dengan statusnya saat ini banyak perlakuan diskriminatif yang ia dan rekannya sesama ODHA terima. Ia bercerita, salah seorang temannya pernah ditolak dokter gigi di Salatiga yang ketakutan menangani hanya karena ia mengidap AIDS. Akhirnya, orang tersebut harus pergi ke RS Dr Kariyadi Semarang hanya untuk mencabut gigi. “Seorang dokter yang mengetahui ilmu kesehatan saja begitu apalagi orang awam yang tidak tahu mengenai penyebaran HIV/AIDS,” keluhnya.<B>Kaled Hasby Ashshidiqy<B>
|  | Allah menciptakan alam ini dengan begitu sempurnanya. Subhanallah. |
Menengok kondisi Wana Wisata Air Terjun Semirang
"Potensi yang tak tergarap optimal" Berlokasi tak jauh dari pusat Kota Ungaran, Ibukota Kabupaten Semarang, Wana Wisata Air Terjun Semirang seharusnya menjadi salah satu alternatif obyek wisata utama bagi warga Ungaran dan sekitarnya untuk dikunjungi. Dari kantor Bupati Semarang, tak lebih dari tujuh kilometer jarak menuju lokasi wisata yang berada di Dusun Gogik, Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat ini. Namun kondisi itu tak membuat obyek wisata yang mengandalkan keindahan air terjun setinggi 45 meter itu banyak dikunjungi wisatawan, bahkan oleh wisatawan lokal Ungaran sekalipun. Karena jika jarak tersebut dihitung menggunakan skala waktu, maka bisa terkesan lebih jauh dari jarak sebenarnya, yakni sekitar 30 menit. Apalagi kalau bukan minimnya akses dan buruknya kondisi jalan yang menyebabkan waktu perjalanan menjadi lama. Ini merupakan salah satu kendala mayor yang dihadapi pengelola dalam mengembangkan obyek wisata ini. Sejak diserahkan oleh pihak desa pada tahun 1994, obyek wisata yang memiliki luas sekitar 10 hektare ini dikelola oleh Perum Perhutani. Pemerintah Kabupaten Semarang saat itu memberikan bantuan terhadap pengembangan obyek wisata itu berupa akses jalan. Namun sayangnya, sejak saat itu hingga sekarang belum ada upaya pengembangan berarti dari kedua pihak tersebut, baik Perhutani maupun Pemkab. Alhasil, kondisi Wana Wisata Air Terjun Semirang pun seperti kata pepatah “hidup segan mati tak mau.” “Kalau tidak ada pengunjung, seperti kuburan. Sepi,” ungkap Mas’ud, 39, satu-satunya penjaga Wana Wisata Air Terjun Semirang saat ditemui baru-baru ini. Beruntung ia sering ditemani oleh Totok Aris, 40, yang menjadi koordinator obyek wisata tersebut. Sehingga masih ada yang diajak bicara jika tak ada pengunjung. Menurut Mas’ud, sangat sedikit pengunjung yang meski pun tiket masuk yang dijual terbilang sangat murah yakni Rp 3.000 per orang. Kalau pun ramai, biasanya pada hari libur, tak sampai 50 pengunjung per hari. Ia mengatakan sulitnya akses menuju lokasi wisata dan minimnya fasilitas yang disediakan menjadi faktor utama mengapa wana wisata itu tak diminati. Pengunjung yang menggunakan kendaraan roda empat tak bisa mencapai di lokasi pintu masuk, melainkan hanya sampai di lokasi parkir yang sempit depan makam Desa Gogik. Pengunjung harus jalan kaki dengan kondisi jalan menanjak sekitar 500 meter menuju pintu masuk. Bagi pengunjung yang menggunakan sepeda motor masih dimungkinkan melaju hingga pintu gerbang namun harus ekstra hati-hati karena jalan berupa makadam dan sebagian masih tanah yang licin, tentunya. Tak sampai disitu, “siksaan” terberat adalah untuk mencapai air terjun Semirang, pengunjung harus mendaki jalan setapak sepanjang kurang lebih 1 km. Dengan kondisi demikian pengunjung yang lanjut usia bisa dipastikan tak mampu tiba di lokasi. Tanpa ada kemudahan akses dan pengembangan fasilitas, bisa dipastikan Wana Wisata Air Terjun Semirang bakal semakin ditinggalkan karena kalah bersaing dengan obyek wisata lain yang dikelola swasta. Namun ada secercah harapan bagi Wana Wisata Air Terjun Semirang dan beberapa obyek wisata lain di Kabupaten Semarang tahun depan. Kepala Bidang Penanaman Modal dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Penanama Modal, Gunawan Wibisono, menyatakan fokus investasi pada tahun 2009 diarahkan pada industri pariwisata. Industri pariwisata ini diyakini tak akan terimbas krisis keuangan global.<B>Kaled Hasby Ashshidiqy<B>
Dicky Jestin Antonik, begitu bocah berkulit kuning langsat itu diberi nama orangtuanya tujuh tahun silam. Memang nama itu terdengar tak lazim bagi anak yang dilahirkan di Ambarawa, Kabupaten Semarang. Entah apa arti dari nama tersebut. Namun pastinya, orangtua Dicky memberikan nama itu dengan maksud dan harapan yang baik. Sayangnya, nasib bocah itu tak sebaik namanya. Bocah ketiga dari tiga bersaudara itu kini hanya bisa tergolek lemah di kasur lepek tak berdipan yang berada di ruang tamu. Tubuhnya seolah tak berisi, terlihat hanya tulang yang terbungkus kulit. Dan yang lebih memprihatinkan, ukuran kepalanya hampir tiga kali lipat ukuran kepala nomal anak seusianya. Ya, Dicky menderita hydrocephalus. Penyakit pembengkakan kepala akibat bertumpuknya cairan itu sudah diderita Dicky sejak ia baru berusia satu bulan. Jangankan berdiri atau pun duduk, untuk menggerakkan kepalanya saja ia tak mampu. Matanya yang tak lagi simetris terus terbelalak, namun tak ada warna maupun bentuk yang ditangkap retina matanya. Ia mengalami kebutaan sejak beberapa tahun lalu. Dicky terlahir dari keluarga yang bisa dibilang jauh dari mampu. Ayahnya yang hanya seorang sales tak lagi memeliharanya sejak ia tahu anaknya mengalami kelainan. Kini ia hanya diasuh oleh nenek dan kakeknya yang sudah berusia lanjut. Ibunya terpaksa meninggalkan Dicky ke Ibukota Jakarta untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ia menanggung hutang yang cukup banyak untuk biaya pengobatan anak ketiganya itu. Bahkan rumah yang ditinggali Dicky saat ini pun sudah menjadi barang jaminan bank sejak beberapa tahun lalu. Tak ada listrik di rumah itu. Karena jaringan listrik itu sudah diputus lama akibat tak mampu membayar tagihan. Kakek dan Nenek Dicky saat ini hanya mengandalkan kebaikan tetangganya yang merelakan sebagian listriknya digunakan untuk keperluan penerangan di rumahnya. Sangat memprihatinkan memang. Sang nenek terlihat begitu tabah menerima kenyataan hidup seperti itu. Ia bahkan tak lagi mengeluarkan air mata saat ia menceritakan cerita hidup dicky yang penuh derita. Saya pikir, ia sudah tak lagi memilik air mata yang harus diteteskan untuk segala penderitaan hidup. Dengan wajah getir, ia menceritakan bagiamana menyedihkan kondisi cucunya saat mengalami step. Ia tak menceritakan secara detil, hanya saja ia mengatakan kondisinya sangat buruk. Bagi yang tak terbiasa pasti sudah jijik melihat Dicky jika tengah step. Dan hal itu terjadi sedikitnya tiga kali setiap hari. Tentu bisa kita memahami mengapa sang nenek tak lagi punya air mata untuk diteteskan. Sedih, prihatin dan rasa marah bergejolak didalam hati. Sedih dan prihatin melihat kondisi Dicky yang semakin lama semakin parah. Marah melihat tidak ada bantuan dari pemerintah sama sekali untuk mengatasi masalah yang dihadapi Dicky. Setidaknya bantuan untuk biaya pengobatan Dicky. Jika tak segera ditangani, nasib Dicky mungkin tak jauh berbeda dengan temannya yang lebih tua yang tinggal di desa sebelah. Bocah itu juga menderita penyakit hydrocephalus, dan telah menghembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan lalu saat ia menginjak usia 15 tahun. Untuk sekedar diketahui, Tulisan ini saya buat untuk menggugah hati kita semua. Ini kisah nyata. Sengaja saya tak memajang foto bocah malang tersebut. Jujur saja, hati saya tak kuat melihatnya wajahnya. Jadi menurut saya lebih baik tak kupajang foto bocah malang itu.
|  | Sesuai judul, hal ini saya lakukan kalau lagi sadar bahwa berbuat sesuatu untuk orang lain itu menyenangkan. Apalagi jika yang kita lakukan menentukan nasib nyawa orang lain. Bukannya nyombong, foto ini diambil pas aku transfusi darah di UTDC PMI Kabupaten Semarang. Waktu itu tanganku jadi korban suster amatir yang masih belum bisa cari pembuluh darah di tanganku. So akibatnya lenganku ditusuk sampe tiga kali!! Auuuucchh....sakittt!!!! |
Mengetahui ..seringkali menjadi suatu hal yang sangat kita inginkan. Dengan mengetahui kita bisa tahu apakah diri kita berada di posisi yang benar. Dengan mengetahui pula posisi kita bisa setingkat lebih tinggi. Tapi dengan mengetahui pula kita bisa hilang kesadaran dan akal sehat. Oleh karenanya tidak semua harus kita ketahui. Manusia memiliki keterbatasan yang sangat. Kita hanya perlu mengetahui sesuai batasan yang kita miliki. Bukan berarti kita tidak mau tahu. Dengan mengetahui hal yang terbatas, sesungguhnya pengetahuan kita tak terbatas. Apa aku saja yang tak memiliki pengetahuan.
|  | Sebagai seorang jurnalis, memang dibutuhkan totalitas. Seperti saat meliput jebolnya salah satu bendungan di Mluweh, Ungaran, Kabupaten Semarang, jalan berlumpur di persawahan pun harus rela diterjang kendati toh akhirnya tidak sampai lokasi karena jauh. Biar ga sia-sia dah kotor-kotor, mending dimanfaatin dengan foto-foto. keluar deh narcisnya. |
|  | Setiap hari melakukan pekerjaan yang berjalan berulang-ulang, rasanya bosan juga. Istirahat sambil memikirkan nasib ke depan boleh juga...... |
|  | Ni foto diambil saat aku ikut latihan perang di Vietnam tahun 1998, bareng John Rambo. Keren kan hehehe... |
 | Guestbook | |
 | ada diky ....alo alo...selamat datang di dunia maya (kata pak udi)..eh tapi maya kemana ya..kok gak nongol...?? |
 | selamat datang di dunia maya... |
| |